1. Home
  2. Opinion
  3. Penuaan Aktif di Tengah Batas Usia: Sudahkah Dunia Kerja Inklusif bagi Lansia?

Penuaan Aktif di Tengah Batas Usia: Sudahkah Dunia Kerja Inklusif bagi Lansia?

Di tengah dinamika dunia kerja yang semakin kompetitif dan berorientasi pada produktivitas, keberadaan lansia sering kali terpinggirkan. Batas usia pensiun masih menjadi norma baku yang secara tidak langsung menyampaikan pesan bahwa setelah usia tertentu, seseorang dianggap tidak lagi produktif. Padahal, pengalaman dan kapasitas yang dimiliki lansia adalah sumber daya sosial yang tidak ternilai.

Sosok Pak Rusdy, seorang lansia berusia 62 tahun yang kembali aktif bekerja di sektor jasa, menghadirkan narasi yang berbeda. Setiap hari ia menyambut tamu dengan senyum tulus dan energi yang menginspirasi. Ia tak hanya menjalankan tugasnya dengan baik, tetapi juga menunjukkan bahwa usia tidak serta-merta menghalangi seseorang untuk terus berkarya dan merasa berdaya.

Ketika diajak berbincang, Pak Rusdy dengan senang hati menceritakan bagaimana ia memutuskan untuk kembali bekerja. Baginya, bekerja bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan cara untuk tetap merasa dibutuhkan, terhubung, dan bermakna. Ia merasa dihargai karena diberi ruang, tidak diberi tuntutan berlebihan, dan tetap diizinkan beristirahat ketika merasa lelah.

Cerita seperti ini seharusnya menjadi titik tolak bagi kita untuk meninjau kembali kebijakan kerja berbasis usia. Di banyak tempat, usia pensiun justru menjadi penghalang sistemik yang menutup kesempatan kerja bagi lansia, terlepas dari kondisi fisik dan keinginan mereka untuk tetap aktif. Padahal, negara-negara seperti Jepang, Singapura, dan Jerman telah mulai mengembangkan kebijakan kerja yang fleksibel bagi lansia, dengan pendekatan yang lebih berbasis kemampuan dibanding angka usia semata.

Memberdayakan lansia dalam dunia kerja juga tidak melulu soal beban ekonomi. Ini adalah bagian dari komitmen terhadap pembangunan inklusif—yang menjamin bahwa semua kelompok usia memiliki kesempatan yang adil untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Inilah yang disebut sebagai “penuaan aktif”, yaitu proses menciptakan peluang bagi lansia untuk tetap sehat, aman, dan terlibat secara sosial maupun ekonomi.

Cerita Pak Rusdy adalah pengingat bahwa inklusi sosial tidak berhenti pada akses bagi perempuan, disabilitas, atau pemuda saja. Lansia juga membutuhkan ruang untuk tetap merasa berdaya. Sudah saatnya kita membangun sistem kerja yang lebih lentur, adaptif, dan menghargai keberagaman usia.

Dengan menciptakan ruang kerja yang ramah lansia, kita tidak hanya menegaskan prinsip keadilan sosial, tetapi juga memperkuat kohesi antargenerasi—di mana pengalaman hidup yang panjang bisa menjadi jembatan pembelajaran dan solidaritas.

Terima kasih atas cerita yang menginspirasi, Pak Rusdy!

Facebook
Twitter
WhatsApp
Table of Contents

More Post Article Sulapa

IMG_7152
Active Ageing Beyond Retirement: Is the Workplace Ready to Include Older Adults?
Read More
Red Grey Photo Human Rights Social Media Graphic Instagram Post
Hak Asasi Manusia Dalam Kebijakan Luar Negeri: Tantangan Global Dalam Mempertahankan Standar Kemanusiaan
Read More
Picture 1
Sacred Spaces and Rhythms: Exploring Religion's Influence on Indonesia's Underground Scene
Read More
id_IDIndonesian